Tanpa terasa lima bulan sudah saya tinggalkan Aceh, bermukim di Taiwan untuk melanjutkan kuliah. Waktu terasa begitu singkat. Saat ini tinggal menunggu hasil akhir dari semua usaha yang sudah saya lakukan selama satu semester mendalami ilmu di National Chiayi University.
INI lebaran Idul Adha kedua saya di Taiwan. Di hari yang suci ini, rasa kangen terhadap kampung halaman tak terbendung. Saya membayangkan bisa merayakan lebaran bersama suami, anak, orang tua terkasih, dan teman-teman dekat yang penuh canda. Tak Ada yang cukup tepat untuk menggambarkan betapa indahnya lebaran di kampung bersama keluarga dan sanak saudara. Apalagi, sehari atau dua hari menjelang hari raya, di kampung ada tradisimakmeugang, sebutan untuk pesta daging yang dilakoni masyarakat Aceh.
Belajar di luar negeri, sejujurnya bukan soal gengsi, tapi lebih kepada belajar mencari hikmah yang berserakan di muka bumi. “…bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah : 10). Hai Kawan, kenalkan nama saya Zaujatul Amna Afganurisfa (yang kini baru lima bulan menyandang gelar Master of Counseling and Clinical Psychology). Saya berasal dari Aceh, setiap orang percaya setiap nama memiliki doa yang baik bagi anak-anaknya, demikian halnya dengan orang tua saya sehingga saya diberi nama seperti itu yang bearti istri yang setia (wallahualam, itu hanya sebuah doa buat saya kelak).