(The end of PhD Journey) HASIL TIDAK PERNAH MENGHIANATI USAHA

by:Ario Muhammad “Kenyamanan adalah musuh terbesar untuk berubah. Jika apa yang anda kerjakan terasa menyenangkan, maka waspadalah, bisa jadi ia tidak meningkatkan kualitasmu.” Lebih dari 30 tahun lamanya, Prof. Erricsson melakukan riset yang mendalam kepada para mega bintang di bidang musik, olahraga, hingga sains. Psikolog berkebangsaan Swedia ini kemudian menemukan bahwa bekal menjadi world-class performers tidak hanya bermodal passion, talenta, uang, dan kemudahan akses untuk belajar. Lebih dari itu, keberhasilan para juara menaklukkan dunia adalah bertahan dalam DELIBERATE PRACTICE yang konsisten dan menyengsarakan [1-5].   Kalimat menyengsarakan ini saya adopsi karena cukup merepresentasikan perasaan hampir semua top performers di berbagai bidang. Sebut saja pebasket terkenal, Ray Allen. Pebasket yang masuk 10 kali dalam All Start National Basketball Association (NBA) Amerika dan dikenal sebagai three-point shooter terbaik sepanjang sejarah NBA ini, pernah berkata:   “Saya sangat tidak suka mendengar orang mengatakan keberhasilan saya melakukan three-point shooter karena anugerah Tuhan lewat tinggi badan saya. Mereka tidak pernah tahu bahwa saya melewati latihan yang keras dan menyengsarakan setiap hari untuk berada pada level tersebut.” [1]   MEMULAI STUDI PhD DENGAN BAHASA INGGRIS PAS-PASAN Salah satu proses ‘menyengsarakan’ yang harus saya lewati selama 3 tahun studi S3 adalah proses belajar menulis akademik (academic writing) yang tak mudah. Saya memulai studi PhD dengan nilai writing IELTS: 6.0. Sebuah angka yang terlalu rendah untuk dikategorikan layak masuk sebagai PhD student. Saya tahu beberapa Universitas di UK bahkan mensyaratkan nilai IELTS writing hingga 7.0 meskipun bukan bidang ilmu sosial.   Apa akibatnya? Laporan pertama saya berhasil membuat pembimbing saya MURKA. Dengan wajah memerah karena emosi, pembimbing mendatangi ruanganku sambil berujar: “Jangan pernah memberikan saya laporan dengan kualitas buruk seperti ini lagi.” Kalimat yang diucapkan pada musim dingin 3 tahun lalu ini masih membekas dalam memoriku. Saat itu saya hanya diam sambil berteriak keras di dalam jiwa: “Saya mungkin bukan salah satu PhD student tercerdas dan termahir dalam academic writing di labmu. Tapi saya akan buktikan kepada anda bahwa saya adalah petarung yang tidak mudah menyerah.”   Dengan sabar saya terus belajar menulis tulisan ILMIAH dengan baik. Pengalaman menyelesaikan thesis S2 berbahasa Inggris di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) juga melewati studi dengan full bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya ternyata memang berbeda jauh jika Kita belajar langsung di english speaking country.   Diawal tahun pertama, merangkai kalimat demi kalimat terasa sangat lama dan tanpa ada hasil yang signifikan. Ratusan komentar pedas soal writing dari pembimbing menjadi hal yang biasa saya terima. Puncaknya ketika saya mulai belajar menulis jurnal pertama saya. Total 8 bulan saya menjalani training intens menulis paper pertama saya dengan pembimbing. Proses yang panjang ini berbuah manis ketika akhirnya jurnal saya diterima dengan minor corrections. Lebih dari itu, kemampuan menulis saya terasa naik satu level. Semula yang butuh berjam-jam merangkai 1 paragraph, kini terasa lebih ringan dan cepat.   MELEWATI STUDI S3 DENGAN DISIPLIN YANG KETAT DAN KONSISTEN Banyak orang mengira saya berhasil menuntaskan studi S3 dalam 3 tahun 2 bulan karena kecemerlangan otak saya. Bahkan ada yang menebak jika perjalanan S3 saya seperti tontonan film tanpa drama. Tapi mereka salah besar. Justru kunci utama keberhasilan saya selain Karena banyaknya kemudahan dari ALLAH adalah saya begitu DISIPLIN menerapkan semua rencana saya. Anda boleh menengok list sticky notes dan agenda jadwal harian saya selama S3. Ketika tahun pertama PhD, saya tinggal Sekitar 1-1.5 jam dari kampus Karena alasan mencari akomodasi yang murah. Masa-masa itu saya Bangun selalu jam 5 pagi. Menyiapkan sarapan dan bekal makan, sudah berada di dalam bus jam 6 pagi. Kemudian saya lanjutkan dengan berenang minimal 3-4 kali Seminggu sebelum memulai kerja. Saya kerjakan dengan konsisten selama 1.5 tahun pertama studi S3 saya.   Pun ketika saya pindah akomodasi dengan jarak yang lebih dekat. Saya masih terus mencatat dan menata waktu keseharian saya termasuk progress yang saya berhasil dapatkan. Saya berganti olahraga, dengan memadukan renang dan bulutangkis untuk menjaga kebugaran fisik dan otak saya. Penyakit-penyakit yang sering saya rasakan seperti migraine dan magh perlahan menghilang.   Dimasa dua tahun pertama PhD ini saya bisa fokus riset di kampus hingga diangka 6-8 jam (tanpa distraksi sama sekali). Berbagai tantangan yang diberikan supervisor saya kerjakan dengan baik. Malam harinya atau di sela-sela break riset, saya selalu memakainya dengan menulis. Untuk itulah saya bisa menerbitkan 3 buku selama S3. Lebih dari itu, perjalanan di Bus setiap hari membiasakan saya untuk menghabiskan buku-buku yang ingin saya baca. Walau tidak banyak namun saya selalu menamatkan membaca buku dalam 2 bulan. Saya teringat dengan pesan Dr. DUCKWORTH [6], cara melatih grit anda adalah dengan bertahan dalam satu aktivitas yang sama berulang-ulang meskipun itu membosankan. Rasa bosan menekuri tulisan-tulisan berat buku manajemen waktu itu kemudian menjadi menyenangkan Karena banyak hal baru yang saya ketahui.   MENUTUP STUDI S3 DENGAN SIDANG VIVA YANG MENAKJUBKAN Dua bulan lamanya saya diberi waktu untuk mempersiapkan sidang. Namun saya baru benar-benar belajar ketika 3 minggu menjelang sidang. Saya memulai dengan membaca semua isi PhD thesis lalu melist kemungkinan-kemungkinan pertanyaan yang keluar.   Satu persatu list pertanyaan itu terjawab dengan bantuan teman postdoc, sahabat saya dari jurusan math, hingga pencarian literature berjam-jam lamanya. Saya melewati proses belajar ini hanya menghabiskan 2-3 jam efektif di kampus (4 jam total termasuk waktu istrahat dan sejenisnya) Karena harus gantian dengan Istri untuk riset PhD tahun keduanya. Disini saya belajar, jika kualitas waktu itu ternyata salah satu faktor yang sangat penting dibanding kuantitas. Untuk itulah, banyak yang sudah berjam-jam belajar namun hasilnya nihil. Karena gagal belajar dengan konsentrasi tinggi.   Tiga hari menjelang sidang waktu terasa melambat. Saya mulai stress karena khawatir jika tidak Bisa perform dengan baik. Pressure ini membuat saya demam dan sakit dua hari menjelang viva. Namun membaik sehari setelahnya. Saya lebih banyak menggunakan waktu setelah sholat di Masjid dengan memanjngkan doa memohon bantuan kepada Allah. Dengan mempublikasikan 7 papers (4 journal paper, 1 book chapter, dan 2 conference papaers) selama PhD, saya sebenarnya cukup punya ‘modal’ menuju viva. Ini menjadi pegangan saya untuk yakin melewati sidang PhD-ku. Saat hari viva tiba, dihadapan saya sudah ada Prof. TORSHSTEN sebagai penguji internal dan Dr. Alison dari Plymouth University sebagai penguji eksternal. Saya diminta mempresentasikan 10 menit key findings dan achievements yang saya Raih selama studi S3. Tidak ada nervous sama sekali Karena saya yakin diskusi ini bukan untuk MENGUJI, tapi Karena ketertarikan mereka terhadap riset saya. Tidak disangka, 90% pertanyaan yang ditanyakan adalah sama dengan pertanyaan pertanyaan yang saya tuliskan sebelumnya. Dua jam viva itu berkhr dengan baik tanpa ada satu pertanyaanpun yang tidak Bisa saya jawab. Saya kemudian diminta keluar selama 10 menit menunggu mereka menentukan hasil viva saya. “Congratulations Ario. You have passed your viva with a few minor corrections.” Kalimat manis ini diucapkan oleh Dr. ALISON dengan aksen Britishnya yang kental. Saya tersenyum harus sambil mengangungkan nama Allah dan bersalaman dengan mereka. Rasanya semua beban dipundak terlepas dengan lega. Perjalanan panjang ini berakhir dengan manis. Benar bahwa: “Proses sulit yang kamu lewati justru yang akan menumbuhkan kualitasmu. Jika kamu nyaman, maka kamu akan berhenti untuk berkembang.” Tiga tahun terakhir ini adalah proses belajar yang mengubah cara berfikir saya dalam memandang sebuah kesuksesan. Selama kamu bekerja keras dan konsisten (istiqomah) dalam berjuang, maka tak ada yang tak mungkin untuk dilakukan. Dan ingat: KETIDAKNYAMANAN adalah TANDA kita sedang berjalan menuju perubahan. Maka teruslah melawan kecemasan, ketidaknyamanan, dan kesulitan tersebut dengan attitude pantang menyerah agar kelak perubahan kualitas itu akan kamu rasakan. -In the end of the day, being a successful person is not either about how smart or talented you are yet it is about how strong your GRIT is. That strong grit will make you to keep going and practicing even though it is hard and painful (Buku Notes From England) Bristol. 17 January 2018. References: [1] Ericsson A. and Pool R., (2016) Peak: Secrets from the new science of expertise, Penguin Random House publishing. [2] Erricsson K.A. The Road To Excellence: The Acquisition of Expert Performance in the Arts and Sciences, Sports, and Games. [3] Erricsson K.A. and Charness, N. (1994). Expert performance: Its structure and acquisition. American Psychologist, 49(8), 725-747. [4] Ericsson K.A. et al. (1993). The role of deliberate practice in the acquisition of expert performance. Psychology review, 100(3), 363-406. [5] Ericsson K.A. and Lehmann, A.C. (1994). The acquisition of accompanying (sight-reading) skills in expert pianists. In I. Deliege (Ed.). Proceedings of the 3rd ICMPC, Liege, Belgium (pp. 337-338). Liege, BelgiumL ESCOM. [6] Duckworth A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. Penguin Random House publishing. — PS: Foto bersama teman lab dan pembimbing pertama dan kedua di kediaman supervisor saya. Sesat setelah perayaan kelulusan S3 —- Beberapa tulisan manajemen waktu, saya tuliskan dalam buku NOTES FROM ENGLAND berkolaborasi dengan Fissilmi Hamida yang Bisa didapatkan di gramedia tedekat atau via online dengan tanda tangan penulis lewat link berikut: https://tinyurl.com/NotesFromEngland

Trackback from your site.

admin

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow YOOtheme on Twitter or read the blog.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.