Berbagi Inspirasi dari Taiwan

Berbagi Inspirasi dari Taiwan

OLEH KHAIRUL RIJAL DJAKFAR, mantan koordinator Majelis Wali Mahasiswa Aceh di Taiwan, Taichung-Taiwan.
PULAU Formosa atau lebih dikenal dengan nama Taiwan terletak sangat strategis di Laut Cina Timur yang berbatasan dengan Republik Rakyat Cina (RRC), Korea, Jepang, dan Filipina. Jumlah penduduk Taiwan lima kali penduduk Aceh, namun luasnya hanya 2/3 luas Aceh. Kemajuan Taiwan dalam perekonomian, pendidikan, pertanian, industri, transportasi, dan pariwisata mampu menyejahterakan rakyatnya.
Di Taiwan terdapat setidaknya tiga kota yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Taichung, Taipei, dan Keelung. Ke tiga kota itulah saya bersama 
Staf Khusus Gubernur Aceh, Fachrul Razi MIP yang kami undang ke Taiwan, berkunjung beberapa hari lalu.
Kota Taichung (Taiwan Tengah) selain terkenal dengan industri permesinannya juga menjadi daerah lumbung padi nasional. Taiwan Tengah terkenal beriklim sedang, tidak terlalu dingin seperti Taiwan Utara (Taipei) pada musim dingin dan tidak terlalu panas layaknya Taiwan Selatan (Tainan) pada musim panas. 
Selain itu, kondisi geografis juga membuat wilayah ini ideal untuk pertanian. Itu sebab Institut Riset Pertanian Taiwan dan fasilitas riset/teknologi pertanian universitas terlengkap berada di Taichung. Produk pertanian terkenal di sini selain gandum, kesemek, pir, persik, jeruk mandarin, lengkeng, pinang, dan sayuran adalah beras. Beras Taichung 65 (T-65) merupakan varietas unggul di Taiwan, bahkan diakui dunia karena tahan segala cuaca (panas/dingin) dan gangguan hama, di samping produknya berkualitas tinggi. 
Dari 1,04 juta penduduk Taichung, 300.000 di antaranya adalah petani. Untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), Pemerintah Taichung sangat kreatif, membuat konsep bisnis pariwisata pertanian dan mendirikan museum-museum. Di sini terdapat museum beras. Kita juga dapat melihat produk sampingan beras yang ternyata bisa diolah menjadi minuman segar. 
Saat mengunjungi Keelung (Taiwan Utara), kami singgah di museum gempa bumi Wufeng, Taichung. Museum ini awalnya sekolah dasar yang rusak parah akibat gempa 7,5 SR pada 21 September 2009 yang menewaskan sekitar 2.500 jiwa. Pemerintah memutuskan untuk membangun sekolah baru di tempat lain dan sekolah yang rusak itu dirawat dan ditambah dengan fasilitas modern, seperti alat simulasi dan animasi gempa, foto-foto, video kejadian, dan lain-lain. Saat masuk ke dalam kami bisa lihat sendiri kondisi tanah yang terbelah dan terangkat serta gedung bertingkat yang hancur, namun disangga dengan hidrolik agar tak jatuh. Kesannya gempa tersebut baru saja terjadi.
Untuk menuju Keelung kami transit di Taipei dan melanjutkan 30 menit perjalanan dengan kereta api. Keelung adalah kota paling utara Taiwan dan berbatasan dengan wilayah Jepang. Kampus perikanan dan kelautan paling terkenal di Taiwan terdapat di sini, yaitu National Taiwan Ocean University (NTOU). Selama sehari penuh kami melihat pusat budidaya perikanan terbesar Taiwan yang berada di pinggir pantai utara Taiwan. Pembudidayaannya menggunakan sistem resirkulasi, yaitu pemakaian kembali air yang telah digunakan setelah melalui penyaringan dan mencegah masuknya penyakit dari air mentah sehingga kualitas air terjaga dan hemat serta tidak bergantung pada cuaca seperti hujan, suhu, dan cahaya sehingga berpotensi meningkatkan produktivitas ikan (kerapu, nila, ikan hias, dan lain-lain) dan udang dalam skala besar.
Selanjutnya, kami kembali ke ibu kota Taiwan, Taipei. Taipei dengan populasi 2,6 juta jiwa adalah kota paling modern dan menjadi pusat pemerintahan Taiwan. Taiwan sangat mempermudah urusan dalam perizinan pembukaan kantor perwakilan asing di negaranya yang tidak hanya atas nama negara, namun bisa juga atas nama perusahaan. Walaupun hubungan RRC dan Taiwan secara politik sering memanas, namun hubungan dagang dan ekonominya sangat erat. Bahkan sebagian besar pabrik di Cina adalah milik investor Taiwan. 
Selama di Taipei kami mengunjungi Istana Presiden Taiwan dan gedung tertinggi kedua di dunia, Taipei 101 (509 meter) dan mencoba naik ke dalamnya dengan lift tercepat di dunia (1.010 meter/menit). 
Sebelum pulang, kami menitipkan kepada Fachrul Razi oleh-oleh “bijeh boh timon taiwan” yang memang terkenal di Aceh. Kali ini ia bisa mendapatkannya langsung dari Taiwan.  Tulisan ini juga di publish di Serambi Indonesia.

Trackback from your site.

khairul rijal

Nama saya Khairul Rijal, dalam bahasa Arab berarti “Laki-laki yang paling Baik”. Nama adalah do’a dan orang tua saya tentu berharap saya menjadi orang baik dan tentu juga bernasib baik. Anggota Asia University Indonesian Student Association, Taichung-Taiwan.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.