Berburu Makanan Halal di Pulau Formosa

OLEH KHAIRUNNISA SYALADIN, mahasiswi Farmasi UGM Yogyakarta, peserta PPSDMS Nurul Fikri VI. Kaohsiung-Taiwan
DULU, Taiwan bernama Pulau Formosa. Julukan tersebut diberikan oleh penjajah asal Portugis yang menemukan pulau tersebut. Formosa berarti pulau yang indah.
Sejak 5 Juli 2013 saya berada di Pulau Formosa ini. Sebagai mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) asal Aceh saya sedang mengikuti pertukaran mahasiswa di Taiwan, tepatnya di Kaohsiung Medical University, salah satu universitas terbaik di Taiwan.  Kaohsiung merupakan kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipei. Kota Kaohsiung berada di selatan Taiwan. Jika kita naik kereta biasanya menghabiskan waktu sekitar delapan jam dari Taipei. Namun, bisa juga menempuh perjalanan ke kota ini dengan high speed rail, hanya menghabiskan waktu sekitar dua jam. High speed rail merupakan kereta cepat di Taiwan, namun harga tiketnya bisa dua kali lipat dibandingkan kereta biasa. Saya mahasiswa, jadinya saya pilih kereta biasa. Harga tiket keretanya 520 NT$ atau sekitar Rp 150.000. Dari stasiun besar Taipei ke stasiun besar Kaohsiung saya berangkat seorang diri. Awalnya saya canggung, karena cuma saya yang berjilbab dan itu menjadi pusat perhatian orang Taiwan. Lagian, selama perjalanan saya hanya diam, karena semua orang berbahasa Cina.
Saat malam tiba, akhirnya saya tiba di Kaohsiung. Selama tiga minggu saya hidup di kota ini. Kegiatan yang saya lakukan adalah meneliti antivirus hepatitis C menggunakan tumbuhan Taiwan, Panax natoginseng. Selain melakukan penelitian di pagi hingga siang hari, saya pun menghabiskan waktu dengan jalan-jalan bersama teman saya. Teman-teman saya tersebut ada yang berasal dari daerah setempat dan ada berasal dari luar negeri juga.
Menjalani hidup sebagai seorang muslim di sini tidaklah mudah. Sulit sekali mendapatkan makanan halal di Kota Kaohsiung ini. Apalagi di kota ini, penduduk muslim adalah minoritas. Alhamdulillah, saat di Indonesia saya berinisiatif membawa rice cooker dan hal tersebut sangat membantu saya dalam menjalanankan ibadah puasa. Lebih dari itu, rice cooker saya ini dapat menghindari saya dari makanan yang tidak halal. Saya sudah coba mencari restoran halal, namun semua restoran menjual daging babi. Hal lain yang menakutkan adalah walaupun tak ada daging babi dalam makanan tersebut, namun terkadang mereka menggunakan minyak babi saat memasaknya.
Baru seminggu saya di sini, ternyata jilbab saya menarik perhatian seseorang. Jilbab adalah identitas seorang muslim. Nah, saat saya berjalan di pelataran kampus, seorang kulit hitam menyapa saya dengan mengucapkan “assalamu’alaikum”. Setelah berkenalan, tenyata dia orang muslim yang berasal dari Gambia. Saat saya tanya di mana dia mencari makanan halal, ternyata dia tak tahu dan setiap hari dia memasak sendiri. Saat Ramadhan lalu, dua hari saya berbuka puasa dengan masakannya, sup okra khas Afrika. Alhamdulillah, saya bisa berbuka puasa dengan makanan halal.
Hal lain yang menyulitkan saya sebagai seorang muslim di kota ini adalah tak adanya masjid. Hampir setengah kota ini pernah saya lalui, namun tidak saya temukan masjid dan tidak pernah terdengar kumandang azan. Beberapa hari berikutnya, tepatnya hari Jumat saya bertemu lagi dengan teman muslim Afrika saya. Ternyata saat itu dia akan shalat Jumat di salah satu masjid di kota ini. Dia berjanji suatu saat akan mengajak saya ke masjid tersebut. Nah, untuk mencapai masjid tersebut dapat ditempuh dengan MRT (Mass Rapid Transit).
MRT merupakan tranportasi publik Taiwan, kereta bawah tanah yang dapat menjangkau setiap tempat yang ada di Kaohsiung dan kota-kota lain di Taiwan. MRT ini sangat diminati setiap warga Taiwan, baik dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Tak heran jika di kota terbesar kedua Taiwan ini kita tak pernah terjebak macet. Sistem pelayanannya sangat eksklusif dan berteknologi tinggi. Di Kota Kaohsiung sendiri terdapat 50 titik pemberhentian MRT. Jadi, dengan MRT tersebut kita dapat dengan mudah menjangkau segala tempat di Kaohsiung. Masyarakat di sini biasanya memiliki MRT card.
Dengan kartu tersebut mereka bisa langsung naik MRT. Pelajar yang memiliki kartu ini mendapat diskon. Turis atau pelancong harus membeli token lebih dulu. Token tersebut sebagai pengganti kartu MRT, digunakan untuk membuka gerbang saat masuk dan ke luar dari stasiun. Harga token untuk satu tujuan 20 NT$ atau sekitar Rp 7.000. Di dalam MRT penumpang dilarang makan, minum, dan merokok. Yang melanggar didenda 1.500 NT$ atau Rp 500.000. Begitulah cara orang Taiwan menjaga disiplin. Semua mereka patuh aturan. MRT selalu bersih dan bebas dari asap rokok. Ini patut dicontoh oleh masyarakat Aceh. Mari belajar menjaga fasilitas umum.
Tulisan ini juga di-publish di Serambi Indonesia

Trackback from your site.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.