Budaya Jalan Kaki di Taipei

OLEH ARMIA NASRI, Penerima Beasiswa Pemerintah Aceh, sedang kuliah S2 National Taipei University, melaporkan dari Taiwan 

TEMPAT saya kuliah sekarang, Taipei, merupakan ibu kota Taiwan (the Republic of China), sebuah negara di Asia Timur yang sebelumnya berbasis di daratan Cina. Taipei adalah ibu kota dan pusat ekonomi maupun budaya Taiwan sekaligus kota yang penduduknya terpadat di Taiwan, mencapai 2.618.772 jiwa.

Banyak kebiasaan bagus yang bisa dicerap dari warga Taipei. Pertama, kebiasaan berjalan kaki. Mulai pukul 7 sampai 8 pagi kesibukan dan kepadatan kota ini mulai terasa. Pelajar dan pekerja mulai memadati jalan-jalan kota dengan berjalan kaki ke tujuan masing-masing. 

Di kota ini tersedia bus untuk tujuan jauh maupun dekat. Mereka juga menggunakan mass rapid transit atau metro rail transit (MRT) kereta listrik cepat sebagai moda angkutan massal ke seluruh kawasan Taipei.

Meski mempunyai moda transportasi yang bagus dan efektif, tapi kebiasaan berjalan kaki merupakan bagian dari kebiasaan sehari-hari warga Taipei. Jarak antara satu stasiun ke stasiun lainnya lumayan jauh. Maka ketika tiba di stasiun tujuan, mereka lanjutkan dengan berjalan kaki, baik itu ke kantor, ke sekolah, ke kampus, maupun ke tempat tinggal masing-masing. 

Kebiasaan yang sangat menyehatkan ini menjadi daya tarik tersendiri, karena para pejalan kaki sangat tertib. Pengemudi kendaraan pun sangat mematuhi peraturan lalu lintas. Mereka spontan berhenti ketika lampu merah dan lampu untuk pejalan kaki menyala. Malah banyak yang sudah berusia lanjut masih kuat berjalan cepat. Ini karena sudah dibiasakan sejak muda.

Satu lagi kebiasaan warga Taipei dan penduduk Taiwan pada umumnya, yakni selalu bersedia menolong orang lain secara maksimal. Hal ini mengingatkan saya pada kebiasaan orang kita di Aceh yang selalu ramah dan siap menolong sesamanya. 

Banyak pengalaman teman-teman saya sesama mahasiswa dari Indonesia di Taiwan yang amat terkesan dengan kebiasaan masyarakat Taipei. Kalau menolong orang lain, warga Taiwan benar-benar total. Contohnya, ketika saya tanyakan alamat sebuah tempat di Kota Taipei. Orang tersebut langsung mengantarkan saya sampai ke tujuan yang jaraknya 100 meter. Padahal, dia tergesa-gesa untuk pergi kerja. 

Pengalaman lain adalah ketika saya tanyakan tempat pemberhentian bus kepada seseorang. Kebetulan dia tidak tahu juga di mana tempatnya. Tapi seketika itu juga dia telepon beberapa temannya untuk mencari tahu. Akhirnya saya dapatkan juga jawabannya.

Di antara hal-hal positif yang dilakukan orang-orang di Taiwan ini, mungkin kita bisa kembali menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, membudayakan jalan kaki, sehingga mengurangi tingkat kesemrawutan parkir seperti yang acap terlihat di Kota Banda Aceh. Dengan membangun pusat parkir di satu tempat untuk satu kawasan kecil (blok) dan menatanya dengan baik, mungkin bisa meminimalisir penggunaan pinggir jalan yang sekarang dijadikan tempat parkir. 

Ternyata biaya parkir untuk kendaraan pribadi di Taipei sangatlah mahal. Untuk satu jam pertama sampai 10.000 rupiah bahkan lebih. Kebanyakan dari mereka mempunyai kendaraan pribadi, tapi mereka lebih memilih menggunakan transportasi umum. Kendaraan pribadinya hanya dipakai pada hari libur saja untuk ke luar kota. Mereka berpendapat, apa pun yang dilakukan itu juga akan mendatangkan manfaat kepada diri sendiri dan juga kepada orang di sekitar kita. Kita juga sangat bisa melakukan hal yang sama dan tak ada kata-kata terlambat untuk memulainya. Apalagi saat sekarang ini, menjelang masuk Visit Aceh Year 2013. Semoga semua turis yang datang ke Aceh bisa mendapatkan kesan yang baik, karena kita muliakan mereka sebagai tamu istimewa. Tulisan ini juga dimuat di Serambi Indonesia(online).

Trackback from your site.

admin

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow YOOtheme on Twitter or read the blog.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.