Sejak kecil saya ingin selalu ke luar negeri, waktu SD, di TVRI saya sangat suka film-film dari luar. Sehingga, sejak saat itu sudah tertanam dalam diri saya agar suatu saat bisa ke luar negeri.
Belajar di luar negeri, sejujurnya bukan soal gengsi, tapi lebih kepada belajar mencari hikmah yang berserakan di muka bumi. “…bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah : 10). Hai Kawan, kenalkan nama saya Zaujatul Amna Afganurisfa (yang kini baru lima bulan menyandang gelar Master of Counseling and Clinical Psychology). Saya berasal dari Aceh, setiap orang percaya setiap nama memiliki doa yang baik bagi anak-anaknya, demikian halnya dengan orang tua saya sehingga saya diberi nama seperti itu yang bearti istri yang setia (wallahualam, itu hanya sebuah doa buat saya kelak).

OLEH MUSLEM DAUD, Ketua Ikatan Mahasiswa Aceh Ranup Lampuan di Taiwan, kandidat doktor pada Educational Measurement and Statistics, NTCU, Taiwan

ADANYA Pameran Pendidikan Tinggi (Higher Education) Taiwan Expo yang diselenggarakan pada 3 Oktober 2013 kemarin di Gedung Ali Hasjmy IAIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh, merupakan kesempatan baik bagi para calon mahasiswa/i untuk melanjutkan studi strata 1 (S1) dan pascasarjana S2 (magister), atau bahkan S3 (doktoral/PhD) ke Taiwan.

OLEH SRI AGUSTINA, penerima beasiswa dari LPSDM Aceh, mahasiswi Program Magister di National Taiwan Ocean University, melaporkan dari Taiwan MENJADI minoritas di tengah mayoritas orang yang beda agama bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Taiwan. Saya awalnya tak terbiasa menjawab pertanyaan yang kadangkala hanya saya tebak maksudnya dari cara warga Taiwan menunjuk-nunjuk jilbab saya (berhubung kemampuan bahasa Mandarin saya yang masih sangat minim) tentang mengapa saya berpakaian tertutup, meski pada musim panas.