Di Taiwan, Belanja di Kaki Lima pun Antre

OLEH JAMILAH AKBAR, mahasiswi Magister Konseling di National Chiayi University, penerima Beasiswa Pemerintah Aceh, Chiayi-Taiwan
ANTREAN merupakan aktivitas yang paling tidak disukai dan dihindari oleh sebagian orang di negeri kita, karena dianggap memakan waktu dan membosankan. Entah itu karena diburu waktu atau karena kurang sabar, sering kita saksikan di tempat-tempat umum tiba-tiba ada orang yang memotong antrean dan menyerobot giliran orang lain.
Tak jarang pula hal itu dilakukan dengan santai, tanpa rasa bersalah. Seolah-olah itu hal yang wajar. Perbuatan ini biasanya akan meningkat dua hingga tiga kali lipat jika di tempat-tempat tersebut tidak ada penjagaan atau nomor urut antrean resmi.
Tapi situasi yang sangat berbeda saya jumpai di Taiwan, tempat saya menimba ilmu selama hampir satu tahun terakhir. Di sini segala sesuatunya berjalan sangat rapi dan tertib. Antre adalah sebuah keharusan bagi siapa saja, di setiap kesempatan dan urusan.
Setiap orang tampak dengan sabar dan kalem menunggu gilirannya, meski berjam-jam sekalipun. Warga di sini kelihatan sangat terbiasa, terlatih, dan kalau boleh dibilang mungkin sudah terlahir dengan disiplin antrean yang tinggi. Memotong antrean atau perilaku menyerobot di tempat umum adalah sesuatu yang tabu dan sangat memalukan, karena tindakan itu dianggap melanggar hak orang lain.
Oleh karna itu, sangat jarang kita temui ada keributan karena ulah seseorang yang mem-by pass antrean atau menyerobot giliran orang di tempat umum. Barisan antrean yang rapi berjejer justru adalah pemandangan yang lumrah dan mudah dijumpai di seluruh pelosok Negeri Formosa ini. Urusan di kantor-kantor pemerintah dan swasta, di sekolah, di kampus, di tempat-tempat wisata dan pesta, di terminal bus, stasiun kereta api, toko-toko, di pusat perbelanjaan, bahkan di warung makan kecil sekalipun. Semua dilakukan dengan antre dan antre.
Saya juga punya pengalaman luar biasa tentang budaya antre ini beberapa hari lalu. Sore itu saya sedang melintas bersama empat teman di salah satu jalan di Chiayi, distrik kecil di Taiwan bagian selatan, tempat kampus saya berada. Tepat di seberang jalan yang kami lewati tampak antrean orang-orang berjejer rapi, memanjang dari depan gang sempit hingga trotoar pinggir jalan. Jumlah antreannya saat itu sekitar delapan hingga sembilan orang. Ada pelajar, anak-anak, dan pria dan perempuan dewasa. Menyaksikan hal ini tentu saja kami penasaran, ada apakah gerangan dan mengapa orang-orang ini mengantre dengan segitu rapinya? Padahal saat itu cuaca cukup panas. Karena saking penasarannya, saya pun mendekati antrean tersebut. Dalam pikiran awal saya dan teman-teman, orang-orang ini pastilah sedang antrean membeli barang-barang yang cukup mahal ataupun sesuatu yang berharga lainnya. Namun pemandangan yang saya saksikan sungguh di luar dugaan. Orang-orang ini ternyata sedang mengantre membeli makanan kecil, berupa kue dan gorengan. Tempat jualan tersebut pun juga hanyalah sebuah gerobak kecil pedagang kaki lima yang tampak sudah tua, dengan tirai plastik yang sudah lusuh. Sungguh sebuah pemandangan yang megangumkan! Betapa luar biasanya budaya antre masyarakat di Taiwan ini. Jangankan di kantor-kantor atau di tempat pelayanan umum besar lainnya, di warung kaki lima sekalipun mereka tetap konsisten, menghormati hak orang lain dengan cara disiplin dalam mengantre.
Pengalaman ini adalah salah satu pelajaran terbaik saya selama studi di sini dan akan menjadi oleh-oleh berharga untuk bisa saya terapkan nantinya atau minimal sebagai bahan cerita kepada anak didik saya ketika kembali ke Aceh. Kagum dan salutku untuk warga Taiwan.
Tulisan ini juga di publish di Serambi Indonesia.

Trackback from your site.

jamilahakbar

JAMILAH AKBAR, Konselor Sekolah Sukma Bangsa Bireuen, penerima Beasiswa Pemerintah Aceh, melaporkan dari Taiwan

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.