Di Taiwan, Rel dan Gerbong Kereta Api Tua Jadi Objek Wisata

 Oleh Muhammad Zulfajri mahasiswa penerima beasiswa Pemerintah Aceh di National Sun Yat-sen University, Taiwan. TAIWAN –  Sering kali saya melihat lewat balik jendela bus sebuah lahan rel kereta api luas yang dikelilingi oleh pertokoan disaat pergi menuju Kaohsiung main station untuk berbelanja keperluan hari-hari di toko Indo. Pingin rasanya untuk berjalan-jalan di tempat itu. Namun karena kesibukan perkuliahan di laboratorium, rencana saya belum terkabul.
Padahal jaraknya sangat dekat. Cuma menempuh 15 menit jalan kaki dari kampus. Sudah 4 bulan saya berada di Taiwan. Kuliah di sebuah universitas yang berada jauh d ari ibukota Taipei. Biasanya pada hari Sabtu dan Minggu, banyak masyarakat yang berkunjung keberbagai tempat wisata. Baik itu museum, theater, temple, kebun bunga, park, dan tempat wisata lainnya. Mereka biasanya berjalan bersama keluarganya sambil menikmati suasana alam.
Minggu lalu kebetulan ada kawan saya dari Tainan bersama rombongan dari kampusnya mengunjungi Kaohsiung untuk mengunjungi pier-2 art Center di Yancheng District. Di sini terdapat banyak galeri dan museum kecil yang menampilkan berbagai seni lukis, patung, dan artistik lainnya.  Sayapun ikut hari itu untuk menemani mereka.
Kunjungan terakhir yang kami kunjungi adalah tempat saya sering saya lihat. Yaitu sebuah lapangan luas bekas rel kereta api bekas yang dikelilingi pertokoan dan perkantoran, di situ terdapat dua gerbong kereta api lama. Tempat itu menjadi objek wisata, banyak orang yang hanya sekedar berjalan-jalan dan bagi anak-anak dan remaja mereka menaikkan layang-layang dengan berbagai keunikan modelnya.
Selanjutnya kami mengunjungi sebuah gedung kecil seperti rumah di sudut tempat itu. Ternyata itu adalah sebuah museum mini. Di dalamnya terdapat peninggalan sejarah tentang kereta api tersebut mulai dari nama-nama masinis, baju, terompet dan peninggalan lainnya. Rel dan gerbong kereta api itu merupakan kereta api pertama yang ada di wilayah Kaouhsiung. Namun mengenai sejarahnya masih bisa dilihat di museum itu.
Sungguh menarik, mereka mampu berpikir bagi hal-hal kecil seperti itu. Untuk terus dikenang dan diperkenalkan ke masyarakat umum sebagai bukti sejarah, dan juga menjadi bahan edukasi bagi siswa-siswa sekolah menengah disana. Saya berpikir bahwa dengan keterbatasan sumber objek wisata sejarah di Taiwan membuat pemerintah Taiwan begitu menghargai setiap apa saja yang menjadi peninggalan masa awal-awal mereka membangun Negara tersebut. Selain itu, mereka juga sangat mengandalkan objek wisata religious seperti temple atau kuil umat budha yang menjadi objek wisata yang sangat diminati.
Aceh sendiri memiliki warisan sejarah dan budaya yang sungguh luar biasa banyaknya. Mulai dari kerajaan-kerajaan di Aceh, perjuangan menghadapi Belanda, lembaga pendidikan dayah, mesjid-mesjid, tempat peninggalan konflik dan lain-lain. Perlu digali dan dipetakan kembali semua tempat tersebut. Seandainya pemerintah daerah dengan serius lagi membangun semua aset itu dan menyediakan fasilitas pendukungnya maka saya rasa tidak perlu menghabiskan banyak waktu, biaya dan tenaga untuk mengajak wisatawan domestik dan mancanegara mengunjungi Aceh seperti Visit Aceh 2013  dengan konsep untuk awal tahun namun sanggup mendatangkan wisatawan kapan saja.
Tulisan ini Juga di muat di atjehpost(Online)

Trackback from your site.

admin

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow YOOtheme on Twitter or read the blog.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.