Hari Pertama di Negeri “Formosa”

Oleh: Hendri Ahmadian. Master student at Chung Hua University, Hsinchu-Taiwan.
Bingung. Itulah situasi yang kami hadapi saat menginjakkan kaki di Taiwan. Kami (rombongan penerima beasiswa pemda NAD) berkesempatan untuk melanjutkan studi di Taiwan – dengan segala pengorbanan dan kerja keras – akhirnya semua urusan bisa kami selesaikan dengan tepat waktu.
Sebenarnya kami diharapkan, hadir di Taiwan akhir bulan September 2009. Tapi kenyataan berkata lain. Berbagai proses administrasi harus kami selesaikan, sehingga kami tidak bisa datang di akhir bulan september.
Dimulai dari pengurusan surat kesehatan, dilanjutkan dengan pengurusan visa – yang terkesan banyak sekali prosedurnya – ditambah lagi kurang pedulinya Panitia Beasiswa terhadap kami. Akibatnya kami harus mengurus sendiri. Memang butuh pengorbanan untuk sebuah perjuangan.
Alhamdulillah kami tiba di Taiwan sekitar tanggal 10 Oktober 2009. Kami beranggotakan 10 orang, 3 orang mengambil Doktor dan 7 orang mengambil program Master.
Kembali ke hari pertama di Taiwan. Masalah pertama yang kami hadapi adalah bahasa. Kami agak kewalahan berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Karena masyarakat Taiwan menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa Nasional baru disusul dengan bahasa Inggris. Pengetahuan dasar tentang bahasa Mandarin sangat penting, sebagai modal untuk berkomunikasi dengan masyarakat sekitar.
Masalah kedua adalah makanan. Susah kita untuk menjumpai makanan yang cocok (halal). Penduduk taiwan banyak mengkonsumsi daging babi dan sebagian produk makanan diolah dengan daging tersebut.  Kami harus hati-hati dan teliti. Tidak sembarangan untuk makan. Dibalik itu semua kami harus tetap semangat, biar bagaimana pun kami telah tiba di Taiwan. Mau nggak mau, kami harus bisa mengatasinya..Semoga…Amin
=~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~=~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~=~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~=
Kagum. Itulah kesan di hari kedua kami di kota Hsinchu, Taiwan. Kami melihat betapa disiplinnya mereka terhadap waktu. Benar-benar pas waktunya. Sebagai contoh jadwal Bus berangkat. Jadwal yang ditempel di papan informasi, pas dengan waktu berangkat. Situasi ini berbeda jauh dengan kondisi di Banda Aceh.
Kedua, kota Hsinchu begitu teratur dan bersih. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan begitu tinggi. Secara umum sistem transportasi di Taiwan sudah bagus. Ada bus dan kereta api. Jadwalnya bisa dilihat di stasiun atau di halaman web. Dan lagi-lagi kondisi ini berbeda jauh dengan Banda Aceh.
Sekiranya kondisi ini ada di Banda Aceh, mungkin Banda Aceh akan menjadi daerah maju seperti Taiwan. Semoga.
Sumber: Hendri

Trackback from your site.

admin

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow YOOtheme on Twitter or read the blog.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.