Mengintip Kiprah Penerima Beasiswa Aceh di Taiwan

 
OLEH KHAIRUL RIJAL, Anggota Asia University Indonesian Student Association, melaporkan dari Taichung, Taiwan
BUKAN rahasia lagi bahwa sejak empat tahun terakhir, Pemerintah Aceh telah mengirim sedikitnya 1.277 mahasiswa untuk kuliah di jenjang S2 dan S3 ke sejumlah perguruan tinggi di luar negeri. Salah satunya adalah ke Taiwan. Di kota ini pula saya kuliah S2, tepatnya di Asia University, Taichung, atas beasiswa dari Pemerintah Aceh. 
Pengiriman mahasiswa Aceh ke luar negeri di masa kepemimpinan Gubernur Irwandi Yusuf dan Wagub Muhammad Nazar ini dilakukan melalui Komisi Beasiswa Aceh (KBA). Tapi mulai tahun ini KBA diganti gubernur namanya menjadi Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Aceh. Dr Qismullah Yusuf MA ditunjuk sebagai koordinatornya.

Setiap tahun, KBA/LPSDM Aceh bersama pihak terkait melakukan monitoring ke berbagai negara, tempat para penerima beasiswa Aceh melanjutkan studi magister maupun doktoralnya. Pekan ini, giliran negeri tempat kami kuliah, yakni Taiwan yang dikunjungi Tim Monitoring Beasiswa Pemerintah Aceh. Monitoring dilakukan sejak 25-28 Oktober 2011 oleh tim yang terdiri atas Kepala Inspektorat Aceh Syarifuddin Z SH MH dan Koordinator LPSDM Aceh, Dr Qismullah Yusuf.

Setiba di Taiwan, tim kecil ini langsung menuju Kampus Chung Hua University di Kota Hsinchu, kemudian menemui mahasiswa Kedokteran asal Aceh di Taipei. 

Kedatangan tim monitoring ke Kampus Chung Hua bertepatan pada hari Rabu, 26 Oktober 2011. Tujuan tim adalah bertemu dengan penerima beasiswa dari Pemerintah Aceh dan berdialog dengan pimpinan universitas untuk mengetahui perkembangan studi mahasiswa Aceh yang difasilitasi kuliah di Taiwan. Selain melakukan pengawasan terhadap penyaluran dan pemanfaatan beasiswa Aceh di Taiwan, tim ini juga melakukan dialog dengan para penerima beasiswa. 

Dari hasil diskusi beberapa jam terungkap bahwa ada sejumlah mahasiswa Aceh yang melanjutkan studi di Taiwan, tapi mereka bukan penerima beasiswa dari Pemerintah Aceh. Para mahasiswa ini mengusulkan kepada tim monitoring agar alokasi dana beasiswa Aceh yang setiap tahunnya lebih dari Rp 100 miliar itu hendaknya disisihkan sedikit untuk membiayai mahasiswa Aceh nonpenerima beasiswa yang kini kesulitan memenuhi biaya hidup dan biaya studinya di Taiwan. Soalnya, selama kuliah mereka hanya mendapatkan beasiswa dari kampus setempat berupa pembebasan uang kuliah dan sewa asrama. Cuma masalahnya, ada pula di antara mahasiswa yang memboyong keluarganya ke Taiwan, sehingga kebutuhan hidupnya bertambah. Usulan tersebut diserap oleh tim monitoring, namun tidak langsung dijanjikan apakah bisa dibantu atau tidak oleh Pemerintah Aceh melalui LPSDM Aceh. 

Setelah foto bersama dengan para penerima beasiswa Aceh di Taiwan, tim monitoring itu pun menuju ibu kota Taiwan, Taipei. Esoknya tim bertemu pula dengan mahasiswa Kedokteran asal Aceh. Para dokter ini merupakan program awal pengiriman mahasiswa asal Aceh untuk mendalami ilmu medis di sejumlah kampus yang terdapat di Taiwan. 

Problema yang mereka alami juga dilaporkan kepada tim monitoring. Bahwa hampir seluruh bahan kuliah berbahasa Mandarin dan dosennya juga mengajar pakai bahasa Mandarin, sehingga peserta didik selama setahun harus kursus bahasa Mandarin sebelum mengikuti perkuliahan, mengingat bidang kesehatan menyangkut keselamatan jiwa dan kesehatan pasien, sehingga penguasaan bahasa sangatlah penting.

Tim ini juga didampingi utusan ESIT (Elite Study in Taiwan) dalam setiap kunjungannya. ESIT adalah lembaga yang disponsori Kementerian Pendidikan Taiwan, tujuannya menyediakan layanan dalam kerja sama pendidikan tinggi antara Pemerintah Taiwan dan negara-negara di Asia Tenggara, termasuk dengan Indonesia, dalam hal ini khususnya Aceh. Selain itu, ESIT juga lembaga perantara yang dipercaya Pemerintah Aceh dalam menyalurkan dana beasiswa setiap bulannya kepada mahasiswa Aceh.      

Tanggal 28 Oktober tim monitoring bertolak ke Amerika Serikat untuk menemui mahasiswa Aceh di sana. Rencananya sekembali dari Amerika, rombongan kembali ke Taiwan dan bertandang ke Kota Hualien untuk menemui mahasiswa Aceh di Kampus National Dong Hwa University. Semoga semua rencana ini berjalan lancar.


Sumber:Serambi Indonesia

Trackback from your site.

khairul rijal

Nama saya Khairul Rijal, dalam bahasa Arab berarti “Laki-laki yang paling Baik”. Nama adalah do’a dan orang tua saya tentu berharap saya menjadi orang baik dan tentu juga bernasib baik. Anggota Asia University Indonesian Student Association, Taichung-Taiwan.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.