Menjadi “Warga Negara” Taiwan

OLEH KHAIRUL RIJAL, anggota Asia University Indonesian Student Association, melaporkan dari Taiwan TAIWAN tak seluas Aceh. Tapi, jumlah penduduknya lima kali lipat dibanding Aceh. Taiwan merupakan contoh konkret wilayah yang berhasil mencapai tujuan nasionalnya, yakni menciptakan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, dan damai. Paling tidak, itulah yang saya rasakan selama setengah tahun perjalanan studi di Taiwan.         Manajemen dan administrasi kependudukan Taiwan sangat rapi dan canggih. Ada empat klasifikasi residen atau penduduk yang menetap di Taiwan. Pertama, penduduk asli atau pribumi Taiwan. Kedua, etnis Cina di luar negeri ataupun penduduk dari RRC, Hongkong, dan Macau. Ketiga, ekspatriat yang bekerja di Taiwan dalam kurun waktu lama, dan terakhir pelajar/mahasiswa maupun tenaga kerja yang memiliki batas waktu dalam studi dan bekerja.  Setiap kelompok residen tersebut memiliki kartu tanda penduduk (KTP) tersendiri yang serupa, tapi tidak sama.     Sebagai mahasiswa di Taiwan, kita digolongkan ke kelompok terakhir yang disebut dengan alien resident. Untuk bisa tinggal dan menikmati pelayanan layaknya warga negara Taiwan, maka kita harus memiliki empat kartu yang harus dibawa ke mana pun kita pergi.  Saat diterima kuliah di Taiwan, maka kartu pertama yang kita dapatkan adalah kartu mahasiswa sebagai identitas diri dalam pengurusan administrasi kampus, termasuk meminjam buku pustaka, mengambil mata kuliah, dan membayar SPP.  Kadangkala di beberapa tempat, universitas bekerja sama dengan perusahaan transportasi dan fasilitas publik, sehingga kartu tersebut bisa digunakan untuk membayar ongkos bus, kereta bawah tanah (MRT), bahkan untuk masuk kebun binatang. Jika uang elektronik dalam kartu sudah habis, maka bisa diisi ulang di supermarket terdekat. Setelah sebulan, maka kita akan menerima kartu ARC (Alien Resident Certificate). Manfaat utama kartu ini adalah kita telah terdaftar dalam keimigrasian Taiwan alias bukan pendatang ilegal lagi. Selain itu bisa berfungsi sebagai kartu bebas ke luar-masuk Taiwan kapan saja, tanpa visa dan pemeriksaan imigrasi yang ketat.  Kartu ketiga yang wajib dimiliki tentu saja kartu ATM bank di Taiwan. Membuka rekening sangat berguna dalam penarikan untuk belanja, membayar tiket penerbangan melalui internet, menerima transfer beasiswa, ataupun untuk keperluan yang tak terduga.  Kartu terakhir yang juga sangat penting adalah kartu asuransi kesehatan yang disebut NHI (National Health Insurance). Taiwan satu-satunya negara Asia yang masuk ke dalam 10 besar negara dengan perlindungan kesehatan terbaik di dunia. Walaupun diwajibkan membayar premi dan fee service, tapi pelayanan kesehatan yang didapatkan tidak terbatas. Seluruh pelayanan dalam satu paket mulai dari tindakan preventif, jasa medis, resep obat, kunjungan perawat hingga perawatan gigi. Ibu melahirkan bahkan dapat subsidi negara.  Pemilik kartu bisa berobat di rumah sakit atau klinik mana saja dan kapan saja di seluruh Taiwan dengan jasa dokter spesialis.  Tidak ada biaya tambahan dan pelayanan setengah hati dari rumah sakit atau klinik, karena mereka berkompetisi sesamanya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pasien. Para dokternya pun terikat ketat dengan jam kerja. Mereka boleh buka praktik atau bekerja di tempat lain asalkan di luar jam kerja.  Dalam amatan saya, walaupun masyarakat Taiwan tak sepenuhnya religius, tapi suasananya sungguh membawa kedamaian dan kesan mendalam di hati.       Sumber: Serambi Indonesia

Trackback from your site.

khairul rijal

Nama saya Khairul Rijal, dalam bahasa Arab berarti “Laki-laki yang paling Baik”. Nama adalah do’a dan orang tua saya tentu berharap saya menjadi orang baik dan tentu juga bernasib baik. Anggota Asia University Indonesian Student Association, Taichung-Taiwan.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.