Mudahnya berkeliling Taiwan menggunakan ‘Easy Card’

Oleh Agus Putra A. Samad, Dosen Fakultas Pertanian, Unsam Langsa, saat ini sedang menempuh pendidikan S3 di Taiwan.
TERSEDIANYA sarana transportasi yang memadai tentu menjadi dambaan seluruh masyarakat. Kebutuhan ini menjadi lebih mendesak pada suatu wilayah dengan tingkat intensitas pergerakan manusia yang sangat tinggi akibat tuntutan pekerjaan.
Sebagai wilayah yang termasuk dalam tiga negara Macan Asia, Taiwan, merupakan salah satu contoh negeri dengan mobilitas penduduk yang cukup besar. Setiap harinya diperkirakan sebesar 34,1% atau sekitar 893.000 orang pengguna transportasi umum tersebar di wilayah ibu kota negara, dan jumlah ini dapat meningkat menjadi 1,4 juta orang di hari-hari libur. Untuk itu, tersedianya sarana transportasi yang cepat dan murah tentulah menjadi hal yang sangat vital.
Pemerintah Taiwan melalui Kementerian Transportasi dan Telekomunikasi mengakui bahwa penggunaan kendaraan pribadi masih tergolong tinggi, terutama di wilayah pedesaan yang jauh dari pusat kota. Oleh karena itu, kementerian terkait memfokuskan diri untuk terus membangun sarana dan prasaranan transportasi seperti bus, Mass Rapid Transit (MRT) dan kereta api serta mendorong masyarakat agar mau memanfaatkan fasilitas tersebut.
Saat ini, pemerintah sedang membangun infrastuktur jalan (highway) dan rel kereta api serta menyiapkan berbagai jenis transportasi umum lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap wilayah. Demi kelancaran program ini pemerintah telah menyediakan dana yang cukup besar yakni sekitar NTD 150 juta selama 3 tahun; sembari terus menyosialisasikan pentingnya pemanfaatan transportasi umum untuk penghematan energi (bahan bakar minyak) dan mengurangi polusi udara.
Pembangunan infrastuktur yang disertai dengan penyediaan alat transportasi umum ini terkesan sangat rapi dan terencana, terutama di tiga wilayah mencakup Keelung, Taipei City dan Taipei County. Tempat pemberhentian bus, MRT dan kereta api selalu ditempatkan di wilayah yang sangat berdekatan dengan pemukiman penduduk dan pusat-pusat perekonomian. Selain itu dalam upaya mengoptimalkan sisi pariwisata, sebagian besar moda transportasi tersebut di arahkan ke lokasi-lokasi pariwisata untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan. Hal ini tentunya menjadi pemikat tersendiri bagi wisatawan untuk mengunjungi tempat wisata, sehingga akan berdampak pada peningkatan perekonomian warga sekitarnya.
Selanjutnya, untuk menjauhkan kesan “menunggu angkutan umum hanya akan membuang waktu”, setiap pelaksana angkutan telah menyediakan fasilitas pendeteksi posisi kendaraan (online via internet), di mana kita dapat mengetahui dengan jelas posisi atau bahkan jarak antara bus dengan bus stop terdekat dengan tempat tinggal kita. Sehingga kita dapat mengatur waktu seefisien mungkin.
Kemudahan lainnya juga dapat dirasakan pengguna transportasi umum, yakni cukup dengan menempelkan kartu ‘Easy Card’ (sejenis kartu kredit yang dapat diisi ulang sebagai pengganti pembayaran tunai) di mesin card reader, kita sudah dapat menaiki kendaraan dan berkeliling Taiwan. Namun, harus dipastikan bahwa kartu EC tersebut sudah terisi cukup kredit. Sementara, pembelian dan pengisian kredit dapat dilakukan di seluruh 7-eleven, Family Mart dan Ok Mart yang tersebar di setiap jengkal negeri ini.
Aceh, meskipun memiliki kesamaan dalam jumlah kabupaten/kota dengan Taiwan yakni sebanyak 23 daerah pemerintahan, namun dalam hal kelayakan transportasi publik tentunya masih tertinggal jauh. Akan tetapi sebagai daerah yang sedang mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah pusat melalui penyediaan anggaran yang lebih besar dibandingkan provinsi lain, dan diperkuat dengan peningkatan sumberdaya manusianya  melalui program pendidikan di Lembaga Peningkatan Sumberdaya Manusia, tentunya sudah menjadi keharusan bahwa Aceh dapat menjadi wilayah dengan sistem transportasi yang baik serta dapat memberi kenyaman bagi masyarakatnya.
Tulisan in dipublish di AtjehPost

Trackback from your site.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.