Romantisme Musim Dingin

OLEH ZAUJATUL AMNA AFGANURISFA, Mahasiswa Magister Psikologi Asia University dan Asisten Dosen Psikologi pada FK Unsyiah, melaporkan dari Taiwan 
ALHAMDULILLAH, sudah hampir 1,5 tahun saya berada di Taiwan untuk melanjutkan studi S2 Jurusan Psikologi di Asia University (AU) Taichung City, salah satu kota terbesar di Taiwan. Banyak hal yang menarik perhatian saya selama berada di negeri ini. Mulai dari pelayanan publik, kultur yang beragam, kehidupan beragama, hingga musim yang berbeda jauh dengan Indonesia.
Taiwan memiliki musim dingin dan awal Desember inilah musim dingin dimulai. “Winter is coming,” begitu pernyataan sejumlah mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Negeri Formosa ini. 
Kali ini cuaca di Taiwan benar-benar tidak bersahabat dibandingkan tahun lalu. Musim dingin kali ini datangnya lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu adalah saat pertama saya rasakan langsung suasana beku Taiwan. Apa yang terjadi di tahun ini hanya Tuhanlah yang tahu dan biarlah para ahli yang akan menjelaskan berdasarkan penelitian dan prediksinya.
Brrrrr… dinginnya. Suhu Taiwan di awal Desember ini 14 derajat Celcius. Tidak hanya dingin di luar pemondokan, bahkan di dalam kamar pun dingin menusuk. Keadaan ini mengharuskan siapa pun yang ingin beraktivitas di luar rumah menggunakan jaket tebal yang mampu menghangatkan badan. Banyak pula orang yang melengkapinya dengan kaus kaki, syal, dan sarung tangan.  
Subhanallah, baru kemarin rasanya saya rasakan betapa teriknya matahari di musim summer, tapi hari ini justru sebaliknya. Dinginnya Taiwan sudah merasuk sampai ke kulit dan tulang saya. Akan tetapi, dunia yang dingin ini memiliki sisi keindahan tersendiri. Salju yang beterbangan dan bunga-bunga khas musim dingin bermekaran, merupakan sisi romantisme dari musim salju di Taiwan.
Di antara bunga yang bermekaran itu adalah sakura, cherry bloom, anggrek, tulip, dan lavender yang seakan berlomba menampakkan keindahannyha di tengah cuaca dingin. Ini momen paling romantis dan sangat dinantikan oleh sejuta mata penikmat bunga. Seakan mata enggan meninggalkan keajaiban yang dipertontonkan oleh-Nya pada musim dingin di Taiwan. Inilah kelebihan musim dingin yang dirindukan banyak orang, terutama orang dari daerah tropis seperti saya. 
Melihat hamparan aneka bunga yang bermekaran pada musim dingin ini, seakan rasa lelah, pusing, dan stres saya karena tugas kuliah mendadak hilang. Dan hanya di musim winter inilah pemandangan seperti ini bisa saya nikmati. 
Di saat “dunia berkabut” ini datang dengan power “kedinginannya”, pada saat itulah rasa takjub muncul, terlebih ketika semua permukaan tanah, atap-atap rumah, juga tempat-tempat duduk di taman, berubah menjadi dingin dan beku sempurna.
Semakin memasuki Desember, udara di Taiwan kian dingin. Hari masih siang, tapi serasa sudah malam. Hujan menambah kabut makin tebal dan menghadirkan wajah dan suasana lain Taiwan yang sulit saya lupakan. Desember tiba sudah, happy winter season. NOTE : Tulisan ini juga di muat di Serambi Indonesia (online).

Trackback from your site.

admin

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow YOOtheme on Twitter or read the blog.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.